Lotion Anti Nyamuk : Benarkah Berguna?

n

Nyamuk telah membunuh lebih dari 700 juta manusia setiap tahun melalui penyakit yang disebarkannya. Tak heran jika berbagai teknologi pengusir nyamuk selalu dikembangkan. Mulai dari obat nyamuk konvensional (bakar) dan spray yang beberapa tahun terakhir ini diperdebatkan efek sampingnya, lotion anti nyamuk, hingga mosquito repellent yang mampu mengeluarkan suara dengan frekuensi tertentu yang dipercaya mampu mengusir nyamuk. Akan tetapi, hingga saat ini obat nyamuknspray dan lotion anti nyamuk masih menjadi pilihan utama. Seperti banyak dibicarakan, obat anti nyamuk spray memiliki residu yang berbahaya jika terhirup oleh manusia, demikian juga dengan obat nyamuk bakar yang asapnya dapat menimbulkan sesak dan juga berbahaya. Lalu bagaimana dengan lotion anti nyamuk?

Setiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk membuat nyamuk tertarik pada kulit mereka. Nyamuk dapat mencium bau manusia dari kejauhan. Ketika bernapas, CO2 atau karbondioksida dikeluarkan melalui hidung demikian juga dengan kulit akan melepas CO2. Seorang entomologist atau ahli ilmu serangga asal Cornell University, New York mengatakan bahwa nyamuk tertarik dengan CO2 yang keluar dari kulit manusia dan juga tertarik akan kelembapan kulit manusia. Di samping itu, Nyamuk juga tertarik pada beberapa jenis zat kimia tertentu di kulit. Lotion anti nyamuk pada dasarnya bekerja untuk menutupi zat-zat kimia yang ada di kulit yang dapat menarik nyamuk.

Salah satu mosquito repellent yang diklaim paling aman adalah DEET. Pertama kali dikembangkan pada 1946 dan available di pasar pada 1957. Selain DEET, adalah picaridin. Keduanya direkomendasikan oleh CDC (Centers for Disease Control and Prevention) sebagai repellent yang paling aman. Berdasarkan penelitian yang dimuat di New England Journal of Medicine (NJEM) pada tahun 2002 juga membuktikan bahwa produk yang mengandung 24% DEET adalah yang terbaik dan dapat bertahan memproteksi kulit dari gigitan nyamuk sepanjang 5 jam. Tak hanya untuk dewasa, DEET juga diklaim oleh American Academy of Pediatrics sebagai yang paling aman untuk anak-anak usia 2 bulan atau lebih. Batasan maksimum penggunaan DEET sebagai repellent untuk anak adalah 10 % hingga 30%.

Bahan lain yang diyakini mampu berperan sebagai repellent, ditemukan pada tahun 1970 adalah bath oil. Namun sebuah studi dari NEJM menyatakan bahwa bath oil hanya mampu memproteksi kulit dari gigitan nyamuk selama 10 menit. Bahan lain soybean oil, atau minyak kedelai hanya mampu bertahan selama 94 menit. Bahan lain yang berasal dari tumbuhan, seperti citronella tidak cukup efektif.

Beberapa orang percaya bahwa lotion anti nyamuk mempunyai efek samping yang cukup berbahaya jika digunakan terus menerus. Salah satunya, iritasi kulit. Bahkan beberapa pakar masih berpendapat bahwa DEET > 30% dapat menyebabkan kanker kulit meskipun The Environmental Protection Agency telah mereevaluasi DEET dan menyatakan bahwa bahan tersebut tidak termasuk golongan karsinogen (menyebabkan kanker). Bahaya lain lotion anti nyamuk yang dikemukakan salah seorang pakarr epidemiologi adalah nyamuk dapat menjadi resisten terhadap bahan yang dipakai sehari-hari untuk repellent sehingga ada kemungkinan beberapa waktu lagi bahan tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi.

Karenanya, disarankan untuk membaca aturan pakai sebelum menggunakan krim anti nyamuk. Cara lain, dengan membeli lotion anti nyamuk dengan kandungan DEET sedikit. Untuk menghindari alergi atau iritasi, dapat dilakukan dengan membilasnya di pagi hari dengan mandi setelah menggunakan lotion anti nyamuk di malam hari (uc).

 

Dapatkan Update Terbaru Seputar Kesehatan!
Bergabunglah bersama subscribers lainnya untuk mendapatkan update dari kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *